Ayah, semangat Ayah!

Oktober 26th, 2008

Mata Merahmu…

Posted by mfathur in Pantai

Mama punya kebiasaan baru: ngumpulin receh dalam dolar US.

“Jika minggu depan bisa terkumpul USD 30, kita pergi ke pantai.” Mama, bilang begitu minggu lalu.

Benar, minggu depannya USD 30 itu benar-benar terkumpul. Pagi harinya, begitu kamu bangun kamu langsung menagih:”pantai”.

Belum sempat tahi matamu diseka, kamu sudah merengek: “pantai”.

“Kita sarapan dulu sayang…”, kata Mama.

“Pantai”, jawabmu. Tidak ada kata lain, kecuali pantai.

Pantai surut pagi itu, tapi kamu berenang juga. Kamu lebih berani dari biasanya, sampai ketengah-tengah. Maklum, dalamnya cuma selutut Ayah.

Hebatnya, kamu mau belajar berenang hari itu. Hasilnya: Mata Merah dan Hidung Merah.

Lihatlah

251020082597

Oktober 25th, 2008

Ma, apa yang harus aku lakukan untuk bisa nonton TV

Posted by mfathur in Sekolah  Tagged , , ,

Hari itu adalah hari keduamu sekolah mengaji. Kemarinnya, dengan diantar Mama, kamu berhasil mengatasi kekuranganmu: keberanian. Hari ini, karena adik menangis, kamu harus ditinggal sendiri. Ujian berat buat keberanianmu.

Begitu Mama pulang, kamu lari ikut pulang. “Aku mau nonton TV ma…” begitu kamu beralasan. Jam 4 sore, mickey mouse dkk  selalu muncul di TV. Dan selama ini kamu tidak pernah ketinggalan satu hari pun.

“Tidak ada TV, sampai kamu sekolah.” kata Mama.

Kamu tidak berani menyalakan TV. Jujur, Ayah akui kamu memang taat–mudah-mudahan bukan karena takut. Tidak ada TV berarti kamu tidak ada kerjaan selain bermain. Bosan bermain, lantas mau apa.

Malam harinya kamu berangkat tidur lebih awal. Ha.. TV rupanya sudah mulai memanipulasi kamu. Pagi harinya kamu juga masih bengong. Bermain, bosan. Kamu main ke tempat budhe sebelah rumah. Cerita-cerita dengan budhe. Lalu budhe menawarimu nonton TV di rumahnya, tapi kamu nggak mau, “Budhe, nonton TV nya di rumah elya aja, elya sekolah dulu, nanti baru mama kasih ijin nonton TV.”

Harus menunggu sampai jam 4 sore, sekolah, lalu baru boleh nonton TV. Dalam kebosanan itu kamu bilang, “Ma, apa yang harus aku lakukan untuk bisa nonton TV”. Sebuah kesempatan emas buat Mamamu untuk menembak jitu ego TV-mu.

“Kamu harus belajar, sekolah, harus berani berangkat sendiri, tidak diantar mama lagi”

Sejak hari itu, kamu sekolah sendiri. Tidak perlu diantar. Tidak perlu diingatkan. Tiba-tiba keberanianmu membuncah.

September 12th, 2008

Besi Batangan Digosok Menjadi Jarum

Posted by mfathur in Cerita, Semangat  Tagged , , ,

Empat seri cerita tentang persahabatan kelinci dan kura-kura telah habis. Hari itu kita pergi ke toko baju. Bulan puasa, karena kamu muslim, maka kamu perlu baju muslim. Apa hubungannya coba, baju dengan kemuslimanmu? Benar juga, bukannya beli baju malah beli buku. Buku cerita, tersegel plastik. Kita tak tahu apa isinya, kecuali promosi tentang cerita sebelum tidur.

Buku dibuka dan ayah bacakan beberapa. And kamu tidak tertarik sama sekali. Ayah tidak bisa menduga sedalam apa pikiranmu.Tetapi ayah juga punya pikiran yang sama. Atau karena kita satu gen? Ayah pikir: “terlalu banyak binatang yang dikorbankan demi kebaikanmu.” Contoh, anjing yang dipersonifikasikan tidak tahu diri. Pada kenyataannya banyak anjing justru tahu diri.

Akhirnya ayah harus cari cerita baru. Mikir nih…apa ya. Ok. Ayah punya:”besi batangan bisa digosok menjadi jarum”. Ayah terinspirasi oleh kelakukanmu akhir-akhir ini: “marah-marah bila kalah main game pinguin”.

Alkisah, pada jaman dahulu di negeri Cina ada seorang anak kecil seperti kamu. Anakku, kamu tahu Cina kan? Kamu cuma nyegir. Mama lebih lagi, tertawa ngakak. Anak seusiamu mana bisa baca peta. Bodohnya aku.

Anak ini tinggal di sebuah desa kecil dan terpencil. Karena merasa tidak mampu atau mungkin tidak suka pelajaran membaca dan menulis, dia lebih sering membolos dari sekolah. Bocah itu lebih suka bermain-main atau berkelana menyusuri jalan-jalan desa dan tepian sungai. Jadilah ia anak yang bodoh. Kamu mau jadi anak bodoh? Kamu menggeleng dengan pasti.

Suatu  hari di tepian sebuah sungai, ia melihat sorang nenek–kamu tahu kan nenek–sedang mengerjakan sesuatu berulang-ulang. Nenek itu terlihat sedang menggosok-gosokkan sesuatu di sebuah batu. Beberapa hari kemudian ia masih melihat hal yang sama: nenek yang sama dengan batu dan besi yang sama, melakukan hal yang sama yaitu menggosok-gosok. Ia tertarik untuk tahu apa yang sedang maksud si nenek menggosok besi sebegitu gigih. Maka dia memberanikan diri untuk bertanya:”Nek, beberapa hari ini saya lihat nenek melakukan hal yang sama terus menerus. Sebenarnya nenek sendang melakukan apa sih?”

Nenek menjawab, “Nenek sedang menggosok besi batangan ini, Nak…”

Ia makin penasaran, “Untuk apa, Nek?”

“Bikin jarum, Nak”

“Wah…mana mungkin, besi batangan bisa digosok menjadi jarum”

Dengan tatapan penuh keyakina, nenek itu menjawab, “Selama kita memiliki kemauan dan kesabaran, selama kita memiliki keteguhan hati, keyakinan, dan keuletan, besi batangan ini bila digosok terus menerus, maka suatu hari nanti besi ini pasti bisa menjadi sebatang jarum….”

Si bocah terhenyak, kaget. Sikap mentalnya berubah total semenjak itu. Ia berubah menjadi rajin, disiplin, dan ulet. Setelah dewasa si bocah tadi menjadi sastrawan terkenal yang kata mutiaranya  tadi menjadi sangat populer hingga saat ini.

Nah, jangan marah kalau kalau main game. Coba lagi, coba lagi jangan menyerah.

“Iya, Ayah .”

September 3rd, 2008

Cerita sebelum tidur

Posted by mfathur in Cerita  Tagged ,

Kelinci vs Kura-kura

“Tahu kelinci? Itu tuh yang jalannya melompat-lompat”

“Tahu” jawabmu dengan berbinar. “Yang kayak gini kan, yah?” sambil kau julurkan tanganmu mengepal kemudian menulurlah jari tengah dan telunjukmu ke udara bergerak-gerak menirukan telinga kelinci.

“Ya, benar.” Jawabku. “Kamu tahu kura-kura, itu tuh yang jalannya pelan-pelan.

“Yang gini ya yah jalannya.” Kamu tempelkan jemarimu didinding dan bergerak-gerak lebih menyerupai laba-laba dari pada kura-kura. Dalam kegelapan gigi-gigi putihmu terlihat seperti gigi kura-kura.

“Kira-kira siapa yang menang kalau lomba lari, kelinci atau kura-kura?”

“Aku yang menang yah.” Gak nyambung kau ini. Masak mau ikut lomba. Emang 17-an.

“Ayo, kelinci atau kura-kura?”

“Kelinci”

“Kura-kura atau kelinci?” ayahbertanya sekali lagi untuk mencoba memastikan benar-benar kalau kau faham.

“Kelinci” bagus. ternyata otakmu sudah jalan.

“Mengapa kelinci?”

“Dia kan cepat larinya yah trus bisa meloncat-loncat, kalau kura-kura kan ‘nggremet’”

“Nah, kali ini kelinci kalah total!”

“Mengapa Ayah?”

Dipadang yang luas beruput hijau dipinggiran sungai yang airnya mengalir terus jernih, bertemulah dua sahabat lama, kura-kura dan kelinci. Embun menetes membasahi bulu halus kelinci.

“Kura, lama kita tidak olah raga, mumpung udara lagi segar dan langit cerah kita lomba lari yok?”

“Ok. Dimana finishnya?”

“Lihat pohon bambu diujung sungai sana, nah itu tujuan kita”

Kelinci segera melompat-lompat. Kura-kura pelan berjalan. Ditengah perjalanan, kelinci berhenti, menengok kebelakang dan terlihatlah nun jauh disana kecil tubuh kura-kura. “Ah, kalau gini kapan nyampainya…” gerutu kelinci. Udara hangat menyeruak kerongkongan kelinci. “Rasanya istirhat sejenak gak bakalan kedahuluan deh, istirahat ah….” Sambil bersandar dekat pohon randu, lama-lama kelinci tertidur. Pelan namun pasti kura-kura mendahului hingga finish.

Ketika terbangun kelinci bukan alang kepalang kagetnya. “Kenapa aku bisa kalah!” serunya. “Besok kita balapan lagi” tantangnya. Kura-kura tersenyum, memasukkan kepala dan istirahat.

“Kenapa kelinci kalah?”

“Dia tidur”

“Pintar. Nah sekarang tidurlah…”

Agustus 21st, 2008

Hukuman

Posted by mfathur in Hukuman  Tagged

Anakku, menjadi orang tua ternyata tidak mudah. Kami tidak pernah diajarkan bagaimana mendidik anak.

Kamu cengeng sekali. Setiap kali kamu minta ijin keluar untuk bermain dengan teman-temanmu, setengah jam kemudian, kamu pulang dengan menangis. Seorang teman sedikit menyenggolmu atau menggodamu.

Dilain waktu kamu suka meneriaki adikmu. Dilain waktu kamu berkata tidak sopan pada orang tua.

Ayah sadar, apa yang ada padamu adalah cermin dari ayah dan ibu. Karena itu ayah dan ibu suka nonton the nany 911 di stasiun TV Metro setiap sabtu dan minggu jam tigaan. Dari situ ayah tahu dimana salahnya: ayah dan ibu kurang disiplin dan konsisten.

Semenjak itu ayah dan ibu menghukummu dengan duduk di kursi selama 3 menit untuk setiap kesalahan yang kamu perbuat. Kamu ingat itu kan? Semenjak itu kamu menjadi begitu baik pada adikmu. Begitu sopan pada ayah dan ibu.

Semua itu hanya gara-gara duduk 3 menit di kursi. Hah. Sepele amat.

Agustus 20th, 2008

Bantal Busuk

Posted by mfathur in Bantal Busuk

Ayah baru pulang. Malam itu adikmu menangis terus. Dalam gendongan ayah, ia menangis seperti kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Ia meloncat-loncat dalam gendongan. Sambil menangis tentu saja.

Jika ayah letakkan di atas kasur, ia akan menagis sejadi-jadinya sambil kepalanya menyuruk-nyuruk.

Menangis seperti kesurupan.

Mama bilang, boneka kelinci putihnya ia masukkan ke bak mandi, basah kuyup. Mama menyimpannya untuk dicuci.

Lama adikmu menangis, sampai akhirnya dengan terpaksa Mama, memasukkan boneka itu ke dalam mesin cuci. Mencucinya dan mengeringkannya.

Begitu dilihatkan boneka yang setengah kering itu, adikmu gembira laksana musafir di padang pasir yang seminggu tidak berjumpa air. Langsung diam dan tidur.

Ah, boneka busuk. Boneka yang berbau iler dan ompol. Bercampur debu, hitam, legam.

Juli 23rd, 2008

Kamu ngompol kan?

Posted by mfathur in kebiasannmu

Hayo….kan ayah dah berkali-kali bilang: “kencing dulu sebelum tidur.” Sejak indovision masuk rumah, kamu lebih mementingkan dora dan kawan-kawan. Jadi lupa berdoa sebelum tidur, dan yang terpenting lupa kencing.

Dan ketika bangun kamu harus merasa malu, tidak berkutik, tidak punya alasan untuk malas mandi. “Hey, kamu ngompolkan?”. Kamu cuma bisa cengar cengir he he he. Malu ni ye….

Juli 22nd, 2008

Andrea Hirata

Posted by mfathur in Buku

Anakku. Diantara dengkurmu ayah membaca novel sang pemimpi Andrea Hirata. Kulihat lekat-lekat wajah kalian. Kuukur dengan diriku. Tiba-tiba ayah merinding. Air mata hendak keluar tapi tidak jadi. Jantungku berdetak lebih cepat. “Sanggupkah aku menyemangati kalian, sehingga sesemangat Ikal atau Arai” lamat-lamat terdengar bisikan direlung jiwaku.

Sejujurnya ayah masih bingung anakku. Apa yang harus ayah lakukan. Ini semacam kebodohan. Dan kebodohan ini nampaknya akan menurun jika tidak segera ditanggulangi. Adakah diluar sana sebuah resep–seperti resep masakan–yang bisa membuat kalian mempunyai mimpi-mimpi hebat, menelusurinya tanpa kenal menyerah, seperti Arai?

Aku tahu, kalian memang keras kepala. Itu turunan. Ibumu.

Juli 22nd, 2008

Anakku Tidak Jemukah Engkau Meneriakkan 2 Kata Itu?

Posted by mfathur in Semangat

Hari ini aku pusing sekali Anakku, entah salah makan atau kurang tidur semalaman. Hari ini ATB–perusahaan penyuplai air ke rumah kita–mengatakan akan memutus sementara aliran air selama lebih kurang 3 hari, jadi Ayah dan Ibu begadang semalaman memenuhi semua bentuk yang melengkung dengan air.

Karena pusing itulah–atau mungkin alasan saja, karena gak ada kerjaan–ayah buka detik–korupsi waktulah, gak apa-apakan, toh usaha sendiri masak gak boleh. Eh kok ada blognya juga. Ayah ngedaftar. Bingung mo nulis tentang apa. Tiba-tiba ayah teringat senyum kalian setiap pagi dan petang. Pagi ketika melepas ayahpergi dan petang ketika menyambut ayah datang.

Jika ayah lesu kecapean, kalian bilang, ayah semangat ayah.

Kita kuat-kuatan anakku. Siapa yang sanggup sampai akhir. Ayah atau kalian. Ayah dengan blog mengabadikan kalian atau kalian yang lebih sanggup menyemangati ayah.