Empat seri cerita tentang persahabatan kelinci dan kura-kura telah habis. Hari itu kita pergi ke toko baju. Bulan puasa, karena kamu muslim, maka kamu perlu baju muslim. Apa hubungannya coba, baju dengan kemuslimanmu? Benar juga, bukannya beli baju malah beli buku. Buku cerita, tersegel plastik. Kita tak tahu apa isinya, kecuali promosi tentang cerita sebelum tidur.
Buku dibuka dan ayah bacakan beberapa. And kamu tidak tertarik sama sekali. Ayah tidak bisa menduga sedalam apa pikiranmu.Tetapi ayah juga punya pikiran yang sama. Atau karena kita satu gen? Ayah pikir: “terlalu banyak binatang yang dikorbankan demi kebaikanmu.” Contoh, anjing yang dipersonifikasikan tidak tahu diri. Pada kenyataannya banyak anjing justru tahu diri.
Akhirnya ayah harus cari cerita baru. Mikir nih…apa ya. Ok. Ayah punya:”besi batangan bisa digosok menjadi jarum”. Ayah terinspirasi oleh kelakukanmu akhir-akhir ini: “marah-marah bila kalah main game pinguin”.
Alkisah, pada jaman dahulu di negeri Cina ada seorang anak kecil seperti kamu. Anakku, kamu tahu Cina kan? Kamu cuma nyegir. Mama lebih lagi, tertawa ngakak. Anak seusiamu mana bisa baca peta. Bodohnya aku.
Anak ini tinggal di sebuah desa kecil dan terpencil. Karena merasa tidak mampu atau mungkin tidak suka pelajaran membaca dan menulis, dia lebih sering membolos dari sekolah. Bocah itu lebih suka bermain-main atau berkelana menyusuri jalan-jalan desa dan tepian sungai. Jadilah ia anak yang bodoh. Kamu mau jadi anak bodoh? Kamu menggeleng dengan pasti.
Suatu hari di tepian sebuah sungai, ia melihat sorang nenek–kamu tahu kan nenek–sedang mengerjakan sesuatu berulang-ulang. Nenek itu terlihat sedang menggosok-gosokkan sesuatu di sebuah batu. Beberapa hari kemudian ia masih melihat hal yang sama: nenek yang sama dengan batu dan besi yang sama, melakukan hal yang sama yaitu menggosok-gosok. Ia tertarik untuk tahu apa yang sedang maksud si nenek menggosok besi sebegitu gigih. Maka dia memberanikan diri untuk bertanya:”Nek, beberapa hari ini saya lihat nenek melakukan hal yang sama terus menerus. Sebenarnya nenek sendang melakukan apa sih?”
Nenek menjawab, “Nenek sedang menggosok besi batangan ini, Nak…”
Ia makin penasaran, “Untuk apa, Nek?”
“Bikin jarum, Nak”
“Wah…mana mungkin, besi batangan bisa digosok menjadi jarum”
Dengan tatapan penuh keyakina, nenek itu menjawab, “Selama kita memiliki kemauan dan kesabaran, selama kita memiliki keteguhan hati, keyakinan, dan keuletan, besi batangan ini bila digosok terus menerus, maka suatu hari nanti besi ini pasti bisa menjadi sebatang jarum….”
Si bocah terhenyak, kaget. Sikap mentalnya berubah total semenjak itu. Ia berubah menjadi rajin, disiplin, dan ulet. Setelah dewasa si bocah tadi menjadi sastrawan terkenal yang kata mutiaranya tadi menjadi sangat populer hingga saat ini.
Nah, jangan marah kalau kalau main game. Coba lagi, coba lagi jangan menyerah.
“Iya, Ayah .”